PUASA DAN PENDERITA PENYAKIT GINJAL

PUASA DAN PENDERITA PENYAKIT GINJAL

Penderita batu ginjal stadium awal disarankan tidak berpuasa. Bagi orang yang memiliki gangguan dengan ginjalnya, puasa menjadi satu tantangan. Meskipun komposisi makanan pada penderita ini tidak perlu diganti, kebutuhan untuk mengonsumsi air perlu pengaturan yang ketat. Namun, hal tersebut bukan berarti penderita ginjal tak bisa berpuasa.

Dr Imam Effendi SpPD-H-GH dari Divisi Ginjal Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM mengatakan, untuk menentukan apakah puasa akan membahayakan atau menguntung kan pasien ginjal, tergantung pada jenis dan derajat penyakit ginjal yang dimilikinya. Pada beberapa orang yang didiagnosis menderita batu ginjal stadium awal, disarankan untuk tidak berpuasa. “Jika kondisinya sudah membaik, penderita baru boleh berpuasa,” katanya.

Sebab, mereka diharuskan minum empat liter setiap hari. Hal ini sulit dicapai pada bulan Ramadhan. “Maka, solusi yang bisa diambil adalah puasa selang-seling atau membayar fidiah,” katanya dalam diskusi beberapa waktu lalu.

Ia membatasi penyakit ginjal menjadi dua, yaitu batu ginjal dan penyakit ginjal kronik. Pada batu ginjal, faktor penyebabnya antara lain adalah kurang asupan air, infeksi ginjal, dan immobil (lumpuh). Sedangkan, untuk penyakit ginjal kronik, penyebabnya antara lain adalah glomerulonefritis, ginjal polikistik, infeksi, dan autoimun.

Se ringnya menggunakan atau tanpa konsultasi dokter mengonsumsi obat-obatan asetaminofen, ibuprofen, dan teh pelangsing juga dianggap dapat memicu penyakit ini. Namun, berbeda dengan jenis penyakit batu ginjal, penyakit ginjal kronik diperbolehkan untuk berpuasa. Sebab, penderita penyakit ginjal kronik justru harus membatasi asupan cairannya. "Baik yang sudah melakukan cuci darah (dialisis) atau belum, boleh berpuasa," kata lelaki kelahiran Magelang ini.

Pada dasarnya, orang sehat yang berpuasa tanpa gangguan ginjal kronik sebenarnya akan mengeluarkan jumlah air seni dan kadar mineral dalam urine tidak terlalu berbeda dengan kondisi tidak berpuasa. Saat berpuasa, kadar natrium dan kalium dalam serum tidak mengalami perubahan.

Akan tetapi, bukan berarti penyakit ginjal kronik ini diabaikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah potensi terjadinya penumpukan kalium dalam darah (hiper kalemia). Fungsi ginjal serta elektrolit dalam darah pun perlu dipantau. Maka, pengukuran kondisi kesehatan ginjal pun mutlak dilakukan, seperti pemeriksaan darah ureum kreatinin, darah cystatin C, atau ronsen renogram.

Ia memperingatkan pasien yang menjalani dialisis (cuci darah) agar waspada. Sebab, mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan saat berbuka dapat menyebabkan kenaikan kadar kalium darah dan berat badan serta kelebihan cairan di antara tenggat dialisis.

Jika ginjal seseorang terganggu, ukurannya akan berubah. Pada orang yang menderita diabetes, ada batu ginjal; sedangkan kanker leher rahim pada perempuan, ginjal akan membesar. Sementara itu, kondisi sebaliknya akan terjadi jika ditemukan penyakit ginjal kronik. Akibatnya, kapasitas membuang air seni menurun sehingga orang menjadi edema. Racun dalam tubuh pun tak bisa keluar. Akibatnya, hemoglobin menurun sehingga menderita anemia. Kalsium pun menjadi hilang dan mengakibatkan tulang keropos.

Menurut dr Imam, sampai saat ini penyebab paling tinggi kematian penderita ginjal, terutama ketika sudah memasuki stadium V, yaitu pada kondisi hemodialisis atau transplantasi ginjal. Cirinya antara lain kelebihan air (overload) dan gangguan elektrolit (hiperkalemia).

Ginjal, kata dr Imam, terletak di belakang pinggang. Jumlah ginjal pada orang normal ada dua buah, tetapi ada pula yang satu, bahkan tiga ginjal pada satu orang. Bentuknya seperti kacang merah dengan ukuran 10 cm x 3 cm. Ginjal berfungsi sebagai alat filtrasi, yaitu mengeluarkan kelebihan garam, air, dan asam. "Fungsi utamanya adalah membuang air dan racun-racun hasil metabolisme," katanya. (sumber: republika)

Perannya yang lain adalah membuang atau mengatur elektrolit, seperti K, Ca, Mg, dan PO4.
Ginjal juga bertugas melakukan sekresi untuk menghasilkan EPO yang berfungsi mengatur haemoglobin darah (HB), aktivasi vitamin D untuk kesehatan tulang, serta menyekresi renin untuk mengatur tekanan darah

Manfaat lain puasa ramadhan: detoksifikasi tubuh

Manfaat lain puasa ramadhan: detoksifikasi tubuh

Tak hanya menyehatkan psikis -- penyucian diri dari sisi spiritual -- puasa juga bermanfaat bagi kesehatan fisik, yaitu membersihkan diri dari berbagai keburukan dan segala penyakit.

Untuk penyucian diri dari sisi fisik ini bisa berarti secara harfiah, yaitu membersihkan tubuh dari bahan-bahan sisa dan penyakit pada tubuh. ''Secara praktis, puasa memperbaharui kehidupan manusia, yaitu membuang sisa makanan yang telah lama mengendap dan menggantikannya dengan yang baru,'' kata ahli gizi, Marzuki Iskandar.

Dengan berpuasa, tanpa makan dan minum sejak subuh hingga magrib, maka perut dan alat pencernaan pun beristirahat. Meski begitu, proses metabolisme dalam tubuh tetap berjalan untuk mengolah persediaan yang masuk di saat sahur. Proses itu tujuannya memelihara tubuh di saat berpuasa.

Marzuki yang juga mengajar di Akademi Gizi yang berada di bawah Kementerian Kesehatan ini berpendapat, pengaturan makan saat berpuasa memberikan keuntungan tersendiri. Mereka yang berpuasa, hanya boleh makan atau minum di saat berbuka pada waktu maghrib hingga saat sahur dan menjelang subuh (imsak). Makanan yang masuk pun diatur, sehingga pencernaan bisa bekerja kembali dengan baik.

Manfaat pengaturan makan di saat berpuasa, katanya, menghasilkan pertahanan dan perlindungan tubuh. Itu didapatkan melalui proses pembuangan makanan-makanan sisa metabolisme dalam tubuh.

Pengaturan pola makan memberikan nilai tambah lain, yaitu membantu mengendalikan nafsu untuk mengonsumsi makanan. Pengendalian nafsu itu sangat penting agar zat-zat yang membahayakan tubuh dalam konsumsi makanan daapt dikendalikan.

Kolesterol baik di dalam tubuh atau HDL (high density lipoprotein) bisa meningkat selama berpuasa. Sementara kolesterol jahat atau LDL (low densitu lipoprotein) menurun. Dengan adanya peningkatan HDL dan penurunan LDL, maka terjadi keseimbangan kolesterol dalam tubuh. Ini bisa memperbaiki sirkulasi darah ke arteri, nadi, otak, dan jantung. ''Dari hasil penelitian membuktikan hal ini. Oleh karenanya, berpuasa bisa menyeimbangkan kolesterol dan baik bagi mereka yang berpenyakit hipertensi dan masalah kolesterol.''

Keseimbangan kolesterol, Uki berpendapat, bisa meminimalisasi penyumbatan pada arteri jantung (arterosklerosis), membebaskan sumbatan di kadriovaskular lainnya, dan menormalkan sumbatan ke otak. ''Yang paling penting adalah manfaatnya dalam mencegah terjadinya stroke.''

Bagi mereka yang kegemukan, lanjutnya, berpuasa bisa menjadi ajang untuk menurunkan berat badan ke tingkat yang normal. Kegemukan terjadi, salah satunya karena makanan yang tidak diproses dengan baik di dalam tubuh dan ditimbun menjadi lemak. Orang yang berpuasa memiliki metabolisme tubuh yang lebih baik yang mampu mengubah kelebihan lemak menjadi energi. ''Namun ini tentu harus dibarengi dengan pola makan dan nutrisi yang sehat.''

Sementara itu, bagi mereka yang kurus, berpuasa sangat bermanfaat untuk meningkatkan berat badan. "Pengaturan makan dengan nutrisi yang baik dan sehat, ditambah dengan metabolisme yang lancar, bisa memperbaiki kekurangan berat badan yang dialaminya," ujarnya. Manfaat puasa sungguh lengkap, ya? (sumber: republika)

Kategori

Kategori